a. Pengertian Komunikasi
Secara etimologis komunikasi atau communication (dalam bahasa Inggris) berasal
dari perkataan Latin communis yang berarti “sama”, communico, communicatio,
atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common) (Effendi,
1993).
Secara terminologis, komunikasi berarti proses penyampaian suatu pernyataan
oleh seseorang kepada orang lain. Pada hakikatnya komunikasi dalam konteks
tulisan ini adalah pernyataan antarmanusia. Adapun yang dinyatakan berupa.
pikiran atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa
sebagai alat perantaranya. Pernyataan dinamakan pesan, orang yang
menyampaikan pesan disebut komunikator (communicator) sedangkan yang
menerima pesan disebut komunikan (communicatee). Pesan komunikasi terdiri
dari dua aspek, pertama isi pesan (the content of the message), kedua lambang
(symbol) untuk mengungkapkan isi pesan yang dimaksud. Pikiran atau perasaan
dikategorikan sebagai isi pesan (content), sedangkan bahasa dikategorikan
sebagai simbol. Komunikasi terjadi apabila terdapat kesamaan makna terhadap
suatu pesan yang disampaikan oleh komunikator dan diterima oleh komunikan.
(Rakhmat, 1989)
Beberapa definisi lain sebagaimana dirangkum Mulyana (2001) dan Effendi (1989)
antara lain sebagai berikut.
Bernard Berelson dan Gary A. Steinir: “Komunikasi adalah transimisi informasi,
gagasan, emosi, keterampilan, dan sebagainya, dengan menggunakan simbol-
simbol: kata-kata, gambar, figur, grafik dan sebagainya. Tindakan atau proses
transmisi itulah yang biasanya disebut komunikasi.”
Carl I. Hovland: “Komunikasi adalah proses yang memungkinkan seseorang
(komunikator) menyampaikan rangsangan (biasanya lambang- lambang verbal)
untuk mengubah perilaku orang lain (komunikan).”
Everett M. Rogers: “Komunikasi adalah proses dimana suatu ide dialihkan dari
sumber kepada suatu penerima atau lebih, dengan maksud untuk mengubah
tingkah laku mereka.”
Harold Lasswell: “(Cara yang baik untuk menggambarkan komunikasi adalah
dengan menjawab pertanyaan berikut) Who Says What In Which Channel To
Whom With What Effect? Atau Siapa Mengatakan Apa Dengan Saluran Apa
Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?”
b. Fungsi Komunikasi
Mulyana (2001) menjelaskan beberapa fungsi komunikasi yang dikemukakan oleh
para ahli yang didasarkan pada beberapa aspek dan tujuan dalam berkomunikasi,
yaitu
1) Pembentukan konsep diri
Konsep diri adalah pandangan kita mengenai siapa diri kita. Semua itu diperoleh
lewat informasi yang diberikan oleh orang lain kepada kita. Orang yang tidak
pernah berkomunikasi dengan sesamanya tidak akan memiliki kesadaran bahwa
dirinya adalah manusia. Pandangan orang lain terhadap kita menjadi penting untuk
pembentukan diri. Nasihat orang tua, wejangan ustadz, dan didikan guru
membantu kita menemukan siapa kita. Semua itu diperoleh dengan
berkomunikasi. Komunikasi yang orang lain lakukan pada kita tidak saja dapat
mengenal siapa diri kita, akan tetapi juga dapat mengenal siapa orang lain.
2) Menyatakan eksistensi diri
Apabila ingin dipandang diri kita eksis di masyarakat atau di kelompok kita, kita
harus berkomunikasi. Kita harus mengutarakan siapa diri kita kepada orang lain
atau kepada rekan-rekan kita. Siswa yang aktif di kelas dapat dipandang sebagai
bentuk eksistensi dirinya yang ingin “berbeda” dengan kawan-kawan lain. Dengan
berkomunikasi, kita bisa dipandang oleh orang lain keberadaan kita.
3) Melangsungkan kehidupan
Perilaku komunikasi yang pertama dipelajari manusia adalah melalui sentuhan
orang tua pada kita sebagai upaya respons atas keinginan bayi melalui
tangisannya. Dengan komunikasi, orang tua mengajarkan arti kasih sayang,
makna cinta, rasa hormat, dan rasa bangga. Semakin dewasa, semakin banyak
yang dipelajari dengan komunikasi antar sesamanya sehingga timbul rasa
ketertarikan dengan lawan jenis, timbul sikap memilih, menyortir, dan akhirnya
mengambil keputusan dengan siapa ia berteman hidup selamanya. Lalu dia
menikah sampai mendapatkan anak, dan kepada anak-anaknya mereka
mengajarkan apa yang pernah mereka terima dari orang tuanya dulu, demikian
seterusnya. Dengan demikian, komunikasi melangsungkan kehidupan dan
mewariskan peradaban.
4) Memupuk hubungan
Melalui komunikasi kita dapat memenuhi kebutuhan emosional dan intelektual kita
dengan cara memupuk hubungan yang hangat dengan orang-orang di sekitar kita.
5) Mengekspresikan perasaan
Seseorang dapat mengungkapkan perasaaannya melalui pesan-pesan verbal dan
nonverbal. Siswa yang sudah lulus ujian mengekspresikan kegembiraan dengan
berbagai cara, seperti sujud syukur, meloncat, berteriak, atau menangis terharu.
6) Fungsi instrumental
Komunikasi berfungsi sebagai instrumen (alat) untuk menginformasikan pesan (to
inform), mengajarkan ilmu (to educate), menghibur (to entertain), mempengaruhi
orang lain (to influence), mengubah sikap, opini, prilaku, dan masyarakat (to
change the attitude, the opinion, the behavior, and the society).
2. Unsur-unsur Komunikasi
Gintings (2008: 120-122) menegaskan ada sejumlah unsur komunikasi
berdasarkan definisi dan model komunikasi. Unsur-unsur yang dimaksud adalah
sebagai berikut.
a. Pengirim atau Komunikator
Dalam konteks belajar mengajar guru dan siswa berperan sebagai komunikator
sehingga terjadi komunikasi dua arah. Ketika guru menyampaikan materi pelajaran
kepada siswa, guru berperan sebagai komunikator dan siswa berperan sebagai
komunikan. Sebaliknya, ketika siswa bertanya atau menyampaikan jawaban
pertanyaan kepada guru, siswa berperan sebagai komunikator dan guru berperan
sebagai komunikan. Dilihat dari segi kompetensi komunikasi, keberhasilan
komunikasi di antaranya ditentukan oleh dua faktor, yaitu kemampuan
komunikator dalam mengemas pesan yang disampaikannya dan kemampuan
komunikan dalam menginterpretasikan pesan yang diterimanya.
b. Penyandian atau encoding
Penyandian atau encoding adalah proses yang dilakukan oleh komunikator untuk
mengemas maksud atau pesan yang ada dalam benak dan hatinya menjadi
simbol-simbol, suara, tulisan, gerak tubuh, dan bentuk lainnya untuk dapat
dikirimkan kepada komunikan. Dalam proses pembelajaran guru harus mengemas
materi pembelajaran yang akan disampaikannya kepada siswa ke dalam bentuk
tulisan, ucapan, atau gerakan.
c. Pesan atau Message
Pesan atau message adalah maksud atau informasi yang akan disampaikan oleh
komunikator melalui simbol-simbol. Dapat pula dikatakan bahwa pesan adalah
sesuatu atau makna yang terkandung dalam simbol-simbol. Pesan dapat
berbentuk verbal, yaitu ucapan dan tulisan atau berbentuk nonverbal, yaitu berupa
gerak tubuh atau ekspresi wajah. Dalam proses pembelajaran yang dimaksud
dengan pesan adalah materi pelajaran.
d. Saluran dan Media
Saluran adalah tempat pesan dalam bentuk simbol-simbol dilewatkan dari
komunikator ke komunikan. Bagi manusia saluran komunikasi di antaranya
pancaindera berupa pendengaran, penglihatan, penciuman, rabaan, dan rasa.
Oleh sebab itu, manusia dapat mengirimkan pesan secara tertulis melalui surat,
papan tulis, buku, faximile, dan lain-lain. Pesan dalam bentuk suara dapat
disampaikan secara langsung atau melalui pengeras suara, cassete recorder, CD
player, radio dan lain-lain. Pesan dalam bentuk audio visual dapat disampaikan
antara lain lewat film projector dan TV. Semua media ini dapat digunakan dalam
proses pembelajaran.
e. Penyadian Ulang atau Decoding
Penyandian ulang atau decoding adalah proses yang dilakukan oleh komunikan
untuk menginterpretasikan simbol-simbol yang diterimanya menjadi makna.
Pemahaman penerima terhadap pesan yang diterimanya merupakan hasil
komunikasi. Pemahaman siswa tentang penjelasan guru atau sebaliknya
interpretasi guru terhadap jawaban siswa adalah proses penyandian ulang atau
decoding.
f. Penerima atau Komunikan
Penerima atau komunikan adalah penerima pesan atau individu atau kelompok
yang menjadi sasaran komunikasi. Ketika guru memberikan penjelasan kepada
siswa, siswa berperan sebagai komunikan. Sebaliknya, ketika siswa
menyampaikan jawaban atas pertanyaan atau usulan kepada guru, gurulah yang
berperan sebagai komunikan.
g. Umpan Balik atau Feedback
Umpan Balik atau Feedback adalah informasi yang kembali dari komunikan ke
komunikator sebagai respon terhadap pesan yang disampaikan oleh komunikator.
Dari umpan balik ini komunikator dapat mengetahui pemahaman dan reaksi
komunikan terhadap pesan yang dikirimnya. Dengan adanya umpan balik ini akan
terbentuk arus komunikasi dua arah.
Dalam konteks pendidikan, umpan balik ini sangat penting artinya bagi
keberhasilan proses pembelajaran. Dengan adanya umpan balik dari siswa, guru
akan mengetahui apakah materi yang disampaikan telah dipahami siswa dan apa
kesulitan siwa dalam memahami pesan yang diampaikan, jika ada selanjutnya
guru dapat menentukan tindakan remedial apa yang perlu dilakukannya.
Sebaliknya, umpan balik dari guru misalnya dalam bentuk nilai atas hasil kerja
siswa akan mengingatkan kepada siswa sampai sejauh mana penguasaannya
terhadap materi yang sedang dipelajari. Berdasarkan umpan balik tersebut, siswa
dapat memutuskan tindakan apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan hasil
belajarnya jika kurang memuaskan.