Komunikasi Bencana dalam Dunia Media yang Berubah, edisi kedua, membahas alat dan taktik komunikasi terbaru di dunia yang terus berubah. Munculnya teknologi baru seperti Internet, email, jejaring sosial, pesan teks, panggilan telepon, video, dan meningkatnya pengaruh responden pertama mendefinisikan kembali peran tradisional hubungan masyarakat dan komunikasi pemerintah. Pada edisi-edisi sebelumnya, pembaca sudah familiar dengan fokus pada siaran pers dan konferensi pers. Namun, teknologi baru meningkatkan standar tentang bagaimana hubungan masyarakat dan komunikasi bencana harus dikomunikasikan. Edisi kedua ini membahas secara komprehensif tentang bagaimana membangun rencana komunikasi bencana yang efektif, bagaimana mendapatkan liputan media, bagaimana memitigasi potensi ancaman, dan bagaimana menangani bencana di rumah, kantor, dan masyarakat.

disaster communication

Komunikasi Bencana edisi kedua ini membahas berbagai jenis komunikasi yang dapat digunakan dalam menanggapi bencana. Dimulai dengan meninjau siaran pers dan strategi media saat ini. Kemudian meninjau berbagai jenis komunikasi yang berkaitan dengan keadaan darurat dan bencana: Manajemen Konten Web, Pengingat Email, Peringatan Pesan Teks, Sistem Peringatan Publik Online, Sistem Peringatan Berbasis Telepon, Sistem Respons Suara Interaktif Pribadi, dan Manajemen Media Seluler. Buku ini kemudian membahas berbagai jenis profesional yang dapat memberikan layanan ini, dengan fokus pada mereka yang terkait dengan liputan media, sistem terbuka, dukungan teknis, vendor komunikasi, dan organisasi sukarelawan. Akhirnya, ini menjelaskan berbagai jenis alat komunikasi yang dapat digunakan.

Komunikasi Bencana edisi kedua ini melihat media fisik dan sosial sebagai alat untuk berkomunikasi setelah bencana. Media sosial telah meledak dengan sejumlah besar pengguna, dan menyediakan platform yang kuat untuk komunikasi bencana. Di sisi lain, media fisik menyediakan akses ke penyelamat hidup, dan berbagi informasi tentang kegiatan masyarakat yang terkena dampak. Ini juga memberikan kemampuan untuk mengkomunikasikan kebutuhan dasar dan kesiapsiagaan darurat.

Tema utama dari teks ini adalah melihat nilai penyebaran informasi dan pentingnya proyek peningkatan kualitas dalam komunikasi bencana. Buku ini dengan tepat menekankan bahwa penyebaran informasi perlu mencakup (tetapi dapat membedakan dirinya dari) pemantauan media tradisional. Banyak organisasi gagal membedakannya, terutama karena mereka tidak memahami apa yang membedakan komunikasi bencana dengan bentuk komunikasi internal lainnya. Namun, penulis membuat argumen yang sangat baik untuk mempertimbangkan peningkatan kualitas sebagai bagian penting dari komunikasi bencana.

Bab ketiga membahas Pesan Kesehatan sebagai Alat Komunikasi Bencana. Health Messaging sangat erat kaitannya dengan komunikasi bencana, karena keduanya adalah tentang “mematikan” informasi. Namun, perbedaan antara komunikasi bencana dan pesan kesehatan adalah bahwa pesan kesehatan difokuskan pada komunikasi pesan medis, sedangkan komunikasi bencana cenderung lebih tentang menasihati dan menyarankan daripada tentang menghibur. Dalam bab ini, penulis menjelaskan berbagai metode untuk menyebarkan informasi setelah bencana, dengan perhatian khusus diberikan pada solusi inovatif yang dikembangkan oleh para ahli kesehatan untuk mengumpulkan, mengatur, dan menyebarkan informasi medis yang diperlukan.

Bab terakhir melihat masa depan komunikasi bencana. Penulis mengidentifikasi tiga arah potensial untuk komunikasi dalam bencana. Salah satunya melibatkan peningkatan infrastruktur komunikasi untuk memungkinkan komunikasi bencana yang lebih baik. Yang kedua melibatkan cara baru untuk berbagi informasi, terutama pesan kesehatan elektronik. Arah ketiga berfokus pada media sosial untuk memfasilitasi penyebaran informasi jika terjadi bencana.